Langsung ke konten utama

Unggulan

Mengapa Kita Perlu Waspada Terhadap Infeksi Bakteri dan Gangguan Pernapasan Berat?

     Saat ini, infeksi bakteri dan penyakit pernapasan berat semakin sering diberitakan. Dua kondisi yang perlu kita kenal adalah infeksi Klebsiella pneumoniae dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) . Meskipun terdengar rumit, sebenarnya kedua penyakit ini bisa dijelaskan dengan sederhana agar lebih mudah dipahami oleh remaja.

Mikrobiota Usus: “Teman Tak Terlihat” yang Bisa Mempengaruhi Berat Badan

Apa Itu Mikrobiota Usus?

Tahukah kamu bahwa di dalam tubuh kita, khususnya di usus, hidup triliunan mikroorganisme seperti bakteri dan Archaea?
Mereka disebut mikrobiota usus. Meski ukurannya sangat kecil, peran mereka dalam menjaga kesehatan tubuh sangat besar. Mikrobiota membantu mencerna makanan, menghasilkan vitamin, melatih sistem imun, dan bahkan bisa memengaruhi berat badan seseorang.


Hubungan Mikrobiota dengan Obesitas

Selama ini kita tahu bahwa obesitas (kegemukan) terjadi karena makan terlalu banyak dan kurang bergerak. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa mikrobiota usus juga ikut menentukan seberapa banyak energi yang diserap tubuh dari makanan.

Peneliti dari Mayo Clinic (DiBaise dkk., 2008) menemukan bahwa:

  • Mikrobiota pada orang obes berbeda dengan orang berbadan normal.

  • Orang obes memiliki lebih banyak bakteri dari kelompok Firmicutes dan lebih sedikit dari kelompok Bacteroidetes.

  • Firmicutes cenderung lebih efisien mengekstrak energi dari makanan, sehingga lebih banyak kalori yang diserap tubuh.

Artinya, dua orang dengan pola makan sama bisa punya berat badan berbeda, karena “bakteri di usus mereka” bekerja dengan cara berbeda!


Cara Kerja Mikrobiota dalam Menyimpan Energi

Hasil percobaan pada tikus menunjukkan bahwa tikus yang memiliki mikrobiota normal memiliki lebih banyak lemak tubuh, meski makannya lebih sedikit dibanding tikus tanpa mikrobiota.
Mengapa bisa begitu?

Karena mikrobiota:

  1. Memecah karbohidrat kompleks menjadi bentuk sederhana yang bisa diserap tubuh.

  2. Meningkatkan pembentukan lemak di hati (lipogenesis).

  3. Menekan hormon penghambat penyimpanan lemak (FIAF), sehingga lemak lebih mudah disimpan di jaringan tubuh.

Selain itu, beberapa mikroba menghasilkan lipopolisakarida (LPS) yang dapat memicu peradangan ringan kronis. Peradangan ini bisa membuat tubuh menjadi resisten terhadap insulin, dan akhirnya memicu obesitas serta diabetes tipe 2.


Mikrobiota dan Keseimbangan Energi

Selain bakteri, usus juga memiliki mikroba dari kelompok Archaea, seperti Methanobrevibacter smithii.
Jenis mikroba ini membantu bakteri lain memfermentasi makanan dengan lebih efisien.
Dampaknya, energi yang diperoleh dari makanan meningkat, dan bila tidak digunakan, akan disimpan sebagai lemak.

Namun, efek ini juga menunjukkan bahwa mikrobiota bisa memengaruhi keseimbangan energi tubuh secara halus namun berkelanjutan.


Dapatkah Mikrobiota Diubah?

Kabar baiknya, komposisi mikrobiota bisa dimodifikasi!
Beberapa cara yang sedang diteliti antara lain:

1. Prebiotik

Zat makanan yang tidak dapat dicerna tubuh, tetapi merangsang pertumbuhan bakteri baik, seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus.
Contohnya: inulin dan oligofruktosa (ditemukan pada pisang, bawang, dan asparagus).
Prebiotik membantu meningkatkan rasa kenyang, menurunkan kadar gula darah, dan mengurangi peradangan.

2. Probiotik

Mikroorganisme hidup yang dikonsumsi untuk menjaga keseimbangan mikrobiota.
Contohnya: yogurt, kefir, tempe, dan suplemen bakteri baik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa probiotik tertentu bisa mengurangi lemak tubuh pada hewan percobaan, meski hasil pada manusia masih beragam.

3. Gaya Hidup Sehat

Konsumsi makanan tinggi serat, rendah lemak jenuh, cukup tidur, dan rutin beraktivitas fisik terbukti mendukung mikrobiota usus yang seimbang.


Masa Depan Penelitian Mikrobiota

Para ilmuwan kini tengah berusaha menjawab pertanyaan penting:

  • Apakah perubahan mikrobiota menyebabkan obesitas, atau justru diakibatkan oleh obesitas?

  • Bisakah kita mengembangkan “terapi bakteri” yang aman untuk membantu menurunkan berat badan?

  • Bagaimana peran mikrobiota sejak masa bayi dalam menentukan risiko obesitas di masa depan?

Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa bayi dengan lebih banyak Bifidobacteria cenderung tidak menjadi obes di usia 7 tahun — menunjukkan bahwa mikrobiota sejak dini bisa memengaruhi tubuh seumur hidup.


Kesimpulan

Mikrobiota usus bukan sekadar “penumpang” di dalam tubuh kita. Mereka adalah mitra hidup yang turut menentukan kesehatan metabolisme dan berat badan.
Menjaga keseimbangan mikrobiota dengan pola makan sehat, konsumsi serat, dan probiotik alami bisa menjadi langkah sederhana menuju tubuh yang lebih sehat.


Referensi:

  • DiBaise, J.K., Zhang, H., Crowell, M.D., Krajmalnik-Brown, R., Decker, G.A., & Rittmann, B.E. (2008). Gut Microbiota and Its Possible Relationship With Obesity. Mayo Clinic Proceedings, 83(4), 460–469.
  • Kalliomäki, M., Collado, M.C., Salminen, S., & Isolauri, E. (2008). Early Differences in Fecal Microbiota Composition in Children May Predict Overweight. American Journal of Clinical Nutrition, 87(3), 534–538.


Catatan:

  • Artikel ini masih dalam pengembangan dan informasi yang dimuatnya dapat berubah seiring dengan kemajuan penelitian ilmiah.
  • Harap diperhatikan bahwa rincian spesifik yang disajikan dalam sumber ini akan bervariasi dan memerlukan akses langsung ke sumber tersebut untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang konten yang dijelaskan.

Komentar

Postingan Populer